Home » , , » Meningkatkan hasil belajar matematika melalui penerapan asesmen kinerja siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 8 Makassar

Meningkatkan hasil belajar matematika melalui penerapan asesmen kinerja siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 8 Makassar

Written By Skripsi ku on Saturday, 5 October 2013 | 20:14

Skripsi: Meningkatkan hasil belajar matematika melalui penerapan asesmen kinerja siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 8 Makassar
Bab 1-5 >>  Ok Lengkap

Bagi yang ingin pesan, silahkan isi form registrasi/donasi.


Pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan dan perbaikan. Hal ini terlihat dengan adanya perubahan kurikulum baik pada tingkat dasar dan menengah  maupun pada tingkat perguruan tinggi, adanya pengembangan kualitas sumber daya manusia (pendidik) melalui pelatihan-pelatihan dan adanya pembenahan sarana-prasarana pendidikan yang dibutuhkan. Perubahan dan perbaikan tersebut pada dasarnya bertujuan untuk menyesuaikan perkembangan mutu pendidikan yang berkualitas terhadap perkembangan zaman yang begitu pesat di segala bidang, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dalam usaha mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan tersebut sangat diperlukan sumber daya manusia yang cerdas dan terampil dalam penguasaan dan penerapan IPTEK, sehingga kurikulum pendidikan kita terus mengalami perubahan dan perbaikan, yaitu pada tahun 1975, tahun 1984, tahun 1994, tahun 1999 (Suplemen GBPP), dan tahun 2001 Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterapkan pada tahun 2004.
    Salah satu prinsip yang dianut dalam pengembangan KBK adalah hasil belajar dipandang sebagai umpan balik untuk perbaikan lebih lanjut terhadap segala kekurangan dan kelebihan peserta didik selama kurun waktu tertentu. Kekurangan dan kelebihan yang dimaksud tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitif siswa. Sebab KBK tidak hanya menuntut pengembangan kognitif saja, tetapi diharapkan siswa memiliki kompetensi yang mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tidak disangkal bahwa selama ini guru hanya mengevaluasi seorang siswa dari segi kemampuan kognitifnya melalui tes paper and pencil, namun tuntutan KBK tidaklah demikian, tetapi seorang guru dituntut memiliki kemampuan melakukan evaluasi secara komprehensif dan berkelanjutan, termasuk mata pelajaran matematika.
    Saat ini, dalam kurikulum matematika telah dimasukan tujuan-tujuan proses, sehingga tes-tes yang tertulis diperlukan untuk menilai unjuk kerja (kinerja) siswa. Tes tertulis memang dapat memberi informasi tentang proses berpikir yang mendasari performens siswa. Namun, beberapa tes tertulis sedikit sekali menampakkan proses berpikir yang menyebabkan si siswa sampai kepada jawaban. Dengan tes tertulis, guru mengamati hasil dari proses berpikir siswa dan bukan pemikiran yang menimbulkan hasil itu. Jika siswa menjawab dengan  benar, guru pasti berasumsi bahwa siswanya telah melalui proses yang benar, tetapi biasanya bukti yang mendukung asumsi itu terbatas. Untuk mendapatkan bukti yang tepat, guru harus mengamati dan menilai penampilan nyata atau karya dari siswanya. Penilaian dimana siswa menciptakan jawaban atau karya yang menunjukkan pengetahuan dan keterampilan mereka disebut penilaian performens (Maesuri, 2002).
Dari hasil wawancara beberapa guru SMP Negeri 8 Makassar ditemukan bahwa mereka selalu menggunakan tes paper and pencil untuk mengases siswanya. Hal ini disebabkan karena: a) alat evaluasi dipertimbangkan lebih praktis, baik penggunaannya, cara penyelenggaraan maupun koreksinya. b) mereka belum memahami asesmen selain tes paper and pencil, bahkan diantara mereka masih ada yang belum tahu atau tidak pernah mendengar asesmen kinerja. Pada hal dengan menggunakan asesmen kinerja dapat memberikan beberapa keuntungan (Airasian & Jack Ott dalam Maesuri, 2002), antara lain: a) instrumen penialain performens sekali dibuat dapat digunakan berkali-kali, berfungsi untuk tujuan diagnostik dan guru dapat membuat grafik perkembangan performens siswa dari waktu kewaktu. b) penilaian performens memungkinkan siswa berkompetisi dengan mereka sendiri. Siswa dapat memperoleh pemahaman tentang apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan. c) karena dalam penilaian performens tidak ada jawaban yang benar dan salah seperti halnya pada tes paper and pencil, maka penilaian ini dapat menghilangkan rasa takut siswa belajar matematika bahkan dapat mengakibatkan rasa senang dalam belajar matematia.
    Kenyataan di SMP Negeri 8 Makassar menunjukkan bahwa: a) sistem penilaian selama ini masih didominasi oleh metode tes paper and pencil. b) rata-rata hasil belajar matematika siswa dua tahun terakhir masih tergolong rendah, yaitu sebesar 5,0.
    Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, maka salah satu asesmen alternatif adalah asesmen autentik. Asesmen ini dapat dijadikan sebagai alternatif solusi dalam menilai perkembangan belajar siswa secara komprehensif, objektif, serta lebih menekankan pada pengembangan alat asesmen yang lebih akurat, mencerminkan dan mengukur apa yang dinilai dalam pendidikan.
Lebih jauh lagi asesmen autentik memiliki manfaat untuk mengubah cara mengases perubahan bagaimana guru mengajar dan bagaimana siswa belajar. Dalam konteks ini diharapkan asesmen autentik dapat digunakan bukan saja untuk memperbaiki pendidikan, tetapi juga bermanfaat bagi siswa, guru, dan keluarga (Hart, dalam Sapaat: 2004).
Ditinjau dari peran guru, asesmen autentik membutuhkan situasi pembelajaran yang student-centered. Situasi tersebut menuntut guru agar lebih proaktif dalam membantu perkembangan belajar siswa menjadi fasilitator. Disamping itu, juga guru sendiri dapat mengevaluasi strategi pembelajaran yang telah diterapkannya.
    Sejumlah studi menunjukkan bahwa sistem penilaian alternatif belum banyak dikembangkan guru dalam pembelajaran matematika, bahkan terdapat guru yang belum memahami sistem penilaian alternatif yang diajukan dalam kurikulum berbasis kompetensi tersebut. Mereka mungkin telah melakukan salah satu atau beberapa jenis penilaian alternatif, tetapi mereka tidak menyadarinya sehingga begitu tidak yakin dan puas atas kualitas penilaian alternatif.
    Hal ini ditemukan bahwa sejumlah guru yang telah memiliki pengetahuan mengenai beberapa jenis penilaian alternatif menguluhkan, karena penilaian seperti itu adalah proses yang membutuhkan waktu yang lama (Sulo, 2002).
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, sehingga penulis tertarik melakukan penelitian tentang penerapan asesmen kinerja sebagai salah satu bagian asesmen autentik. Penelitian ini, akan dijadikan bahan tugas akhir dengan judul “Meningkatkan hasil belajar matematika melalui penerapan asesmen kinerja siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 8 Makassar”.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Fun Page

 
Support : Bisnis Online Mahasiswa | Muslim Yes | Download Skripsi
Copyright © 2013. Download Bank Skripsi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger