Home » , , » Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Pada Materi Relasi, Fungsi, Dan Grafiknya Di Kelas 2 Sltp

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Pada Materi Relasi, Fungsi, Dan Grafiknya Di Kelas 2 Sltp

Written By Skripsi ku on Sunday, 6 October 2013 | 01:40

skripsi: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Pada Materi Relasi, Fungsi, Dan Grafiknya Di Kelas 2 Sltp
Bab 1-5 > Ok lengkap....

Bagi yang ingin pesan silahkan isi form pendaftaran/donasi.

Pendidikan matematika merupakan bagian integral dari pendidikan, sehingga untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan saat ini sudah tentu pendidikan matematika ikut berperan. Hal tersebut dapat disimak dalam tujuan umum diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, yaitu :
a.    Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, jujur, efisien dan efektif.
b.    Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan (Depdikbud, 1996: 1)

    Dengan demikian, tujuan umum pendidikan matematika pada jenjang pendidikan menengah memberi tekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa serta keterampilan mereka dalam penerapan matematika.
    Sekarang kita dihadapkan pada era baru dengan suatu paradigma kurikulum yang berbasis kompetensi. Kurikulum dengan basis kompetensi dalam prakteknya di kelas banyak melibatkan keaktifan dan juga kreatifitas baik guru maupun siswa dalam kegiatan pembelajaran. Interaksi dalam suatu kegiatan pembelajaran diarahkan ke model interaksi multi arah, yaitu guru–siswa, siswa–guru, siswa–siswa, dan siswa–materi (Johnson & Johnson, 1994: 102). Tentunya kemampuan siswa untuk mengungkapkan pengetahuan yang dimilikinya ataupun yang baru dipahaminya menjadi sangat penting.
    Pemberlakuan kurikulum baru ataupun suatu strategi pembelajaran yang berorientasi siswa aktif (pembelajaran yang berpusat pada siswa/student oriented) bagi keadaan sekarang, bagaimanapun, perubahan tersebut membutuhkan penyesuaian bagi semua pihak, terutama guru dan siswa sebagai subyek dan obyek langsung bagi pembelajaran yang dimaksud. Ini akan memunculkan banyak kasus. Salah satunya adalah kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan yang dimaksud.
    Pada sisi lain, yang terjadi bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan konvensional sudah menjadi kebiasaan. Pada pembelajaran dengan pendekatan konvensional, komunikasi siswa masih terbatas hanya pada jawaban verbal yang pendek atas berbagai pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hal ini disebabkan karena pembelajaran terpusat pada guru. Kebiasaan siswa hanya mendengarkan, mengikuti contoh, dan mengerjakan soal-soal latihan tanpa terlibat dalam mengkonstruk konsep, prinsip ataupun struktur berdasarkan pemikirannya sendiri. Satu hal lain pula yaitu kemauan siswa untuk bertanya  sangat minim. Dari keterkekangan tersebut, dalam setiap kegiatan pembelajaran seperti itu, membuat siswa bersikap "tertutup". Akhirnya kebiasaan tersebut terus terjadi yang menyebabkan siswa tidak terbiasa bersikap aktif dalam berinteraksi dengan guru ataupun dengan temannya, bahkan bersikap acuh tak acuh terhadap materi yang sedang dipelajarinya.
    Pembelajaran matematika secara konvensional (kegiatan pembelajaran dimulai dengan pemberian teori/konsep, pemberian contoh oleh guru, dilanjutkan pengerjaan soal latihan oleh siswa) dengan guru sebagai pusat pembelajaran dan sumber belajar, merupakan salah satu penyebab kecenderungan siswa untuk menghafal dan bekerja secara prosedural, serta memahami matematika tanpa penalaran. Dalam pembelajaran konvensional, guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran, sedangkan siswa lebih berperan sebagai pendengar atau pencatat yang baik. Guru sering menganggap bahwa matematika merupakan produk dan bukan proses. Oleh karena itu, dalam kegiatan pembelajaran matematika guru cenderung mentransfer pengetahuan matematika yang dimilikinya ke dalam pikiran siswa tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruk pengetahuan matematikanya sendiri. Siswa sering diposisikan sebagai obyek yang tidak tahu apa-apa yang hanya menunggu dan menyerap apa yang diberikan oleh guru. Hal ini berakibat siswa menjadi pasif dan gurulah yang aktif. Akhirnya, sebagai hasil, siswa sekedar memperoleh informasi dan kemudian menghafalnya. Padahal, matematika dan bagaimana pemahamannya berkembang sebagai suatu proses informasi dan mengkonstruksi ide-ide secara mental. Juga pengetahuan matematika diperoleh sebagai hasil pemikiran kita tentang konsep-konsep numerik dan spasial.
    Sudah saatnya siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan diri. Peran guru sebagai pemberi ilmu, selayaknya berubah menjadi fasilitator bagi siswa untuk belajar dan mengkonstruk pengetahuan sendiri (Hudojo, 1998: 5). Hal ini relevan dengan pandangan konstruktivis bahwa siswa yang harus aktif membangun pengetahuan mereka.
    Strategi pembelajaran matematika yang berorientasi pada pandangan konstruktivis adalah belajar kooperatif. Belajar kooperatif merupakan kegiatan yang berlangsung dalam lingkungan belajar sehingga siswa dalam kelompok kecil saling berbagi ide-ide dan bekerja secara kolaboratif untuk menyelesaikan tugas akademik (Davidson dan Kroll dalam Tamrin, 2002). Dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak dituntut untuk secara individual berupaya mencapai sukses atau berusaha mengalahkan rekan mereka, melainkan dituntut dapat bekerja sama untuk mencapai hasil bersama. Aspek sosial sangat menonjol dan siswa dituntut bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya. Dalam belajar kooperatif siswa belajar dalam kelompok kecil yang bersifat heterogen dari segi gender, etnis, dan kemampuan akademik untuk saling membantu satu sama lain dalam mencapai tujuan bersama (Slavin, 1995: 2).
    Pada pembelajaran konvensional siswa lebih ditekankan kepada hasil belajar dari sisi kognitif, sedangkan aspek lain yang berhubungan dengan afektif bahkan psikomotor cenderung terabaikan. Pembentukan kelompok memang terdapat dalam pembelajaran konvensional. Tetapi, pengelompokan tersebut hanya berorientasi untuk hasil akhir (penyelesaian tugas), kerja tiap kelompok tidak diperhatikan, keterampilan sosial tidak secara langsung diajarkan. Melalui penerapan pembelajaran kooperatif hal itu dapat direduksi, sehingga siswa terbiasa dalam interaksi sosial selain penyelesaian tugas.
    Selain dapat digunakan untuk siswa yang bersifat heterogen, Johnson & Johnson (1994: 44) menyatakan “Cooperative learning can be used with some confidence at every grade level, in every subject area, and with any task”. Dalam bidang matematika, belajar kooperatif  dapat digunakan dalam praktik keterampilan, belajar penemuan, investigasi, pengumpulan data laboratorium, diskusi mengenai suatu konsep, dan pemecahan masalah. (Davidson dan Kroll dalam Tamrin, 2002).
Ada beberapa tipe pembelajaran kooperatif, di antaranya adalah STAD (Student Teams Achievement Division), Jigsaw, GI (Group Investigation), dan The Structural Approach. Di antara tipe-tipe tersebut, STAD merupakan yang paling sederhana, sehingga sangat cocok untuk guru yang baru memulai menerapkan pembelajaran kooperatif dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kesederhanaan ini meliputi penyajian materi oleh guru dengan metode ceramah atau demonstrasi yang masih dimungkinkan dan kemampuan siswa mengkomunikasikan hasil kerja atau hasil diskusi melalui presentase ke seluruh kelas dilatihkan secara bertahap.
Hasil-hasil penelitian (Slavin, Linda Lundgren dalam Ibrahim, 2000: 16) menunjukan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar, dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman belajar individual ataupun kompetitif.
    Merujuk pada hasil belajar siswa yang rendah, suatu penilaian yang bijak jika mengasumsikan banyak faktor sebagai penyebabnya. Sehingga kita (guru) tidak begitu saja mengklaim bahwa penyebab utamanya semata-mata karena rendahnya kemampuan siswa. Penyebab yang tidak tunggal itu, di antaranya karena kurang penguasaan materi oleh guru atau penggunaan strategi yang kurang tepat, dan kurangnya media.
    Berdasarkan uraian di atas bahwa strategi dalam kegiatan pembelajaran turut menentukan hasil belajar seperti yang dikemukakan oleh Hudojo (1988: 96) bahwa strategi pembelajaran akan menentukan terjadinya proses belajar yang selanjutnya menentukan hasil belajar. Juga dikemukan oleh Soedjadi (dalam Widada, 1999: 3) bahwa :
Betapapun tepat dan baiknya bahan ajar matematika yang ditetapkan belumlah menjamin akan tercapainya tujuan pendidikan matematika yang diinginkan. Salah satu faktor penting untuk mencapai tujuan pendidikan adalah proses belajar yang dilaksanakan.

    Dalam rangka penataan dan pemanfaatan lingkungan belajar, guru sebagai pengarah dan pemberi kemudahan dituntut untuk dapat melakukan aktivitas yakni :
a.    Menyajikan sesuatu yang merupakan prasyarat terjadinya proses kognitif (asimilasi dan akomodasi) dalam diri siswa.
b.    Menumbuhkembangkan proses berpikir yaitu merangsang, mengarahkan, memelihara, dan meningkatkan kadar atau intensitas proses berpikir siswa.
c.    Membina interaksi sosial yaitu hubungan timbal balik antara individu dalam suasana kebersamaan.
d.    Mengajar bagaimana belajar (Suherman dan Winataputra dalam Manoy,         1999:2-3)

    Mewujudkan harapan bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru mulai meninggalkan penggunaan pembelajaran konvensional, penyesuaian terhadap perubahan kurikulum, juga pembelajaran yang berorientasi siswa aktif (student oriented), membangkitkan interaksi multiarah, dan kemampuan sosial, serta memuat konstruktivisme, maka pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan suatu pilihan. Keberhasilan dari penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD ini bergantung kepada peran dan kesiapan guru di dalamnya.
Peran guru tersebut sangat bergantung dari strategi pembelajaran yang digunakan, juga materi yang sedang diajarkannya. Seperti halnya pada materi Relasi, Fungsi, dan Grafiknya. Materi ini terdapat dalam kurikulum 1994 (dengan Suplemen 1999) mata pelajaran matematika SLTP. Materi ini diajarkan pada semester ganjil di kelas 2 SLTP. Materi ini terdiri dari dua subpokok bahasan, yaitu (1) relasi,              (2) pemetaan/fungsi dan korespondensi satu-satu. Dalam materi ini berisi tentang :
1.    Pengertian relasi, fungsi, dan korespondensi satu-satu.
2.    Penyajian ketiga konsep tersebut pada dua himpunan yang diketahui dalam bentuk diagram panah, diagram Cartesius, dan himpunan pasangan terurut.
3.    Menghitung banyak fungsi yang mungkin antara dua himpunan
4.    Notasi, aturan, dan nilai fungsi.
5.    Menggambar grafik fungsi.
6.     Aplikasi dalam kehidupan.
    Materi tersebut memuat hal yang lebih kompleks dalam matematika. Di antaranya, mengandung operasi bilangan bulat/bentuk aljabar yang banyak dikemukakan dalam beberapa hasil penelitian sebagai materi yang cukup sulit bagi siswa. Materi inipun melibatkan beberapa simbol/notasi seperti  f, f(x), f : A ® B, dan lainnya. Selain itu, materi ini memuat kosa kata yang mirip atau sama dalam kehidupan sehari-hari tetapi berbeda makna atau artinya (sebagai contoh : peta, fungsi, persamaan), juga memuat grafik, diagram, tabel, dan struktur matematika. Selain itu pada materi ini dibutuhkan pengetahuan prasyarat yang cukup banyak di antaranya seperti himpunan, ketaksamaan pada bilangan bulat, operasi dua bilangan bulat, diagram Cartesius, persamaan linear dengan satu peubah, juga pengetahuan umum baik yang terdapat pada mata pelajaran lain maupun dalam kehidupan.
    Melalui pembelajaran kooperatif (tipe STAD), kekompleksan isi materi Relasi, Fungsi, dan Grafiknya tersebut, siswa dalam belajar dapat saling memberi informasi dalam kelompoknya, bahkan antar kelompok. Salah satu anggota kelompok mungkin menguasai informasi A akan menjelaskannya kepada teman lainnya. Siswa lain dalam kelompok tersebut menguasai informasi B akan menjelaskan pula informasi tersebut. Demikian seterusnya sehingga informasi dan pengetahuan yang diperlukan akan dapat dipenuhi. Dengan demikian mereka akan merasa saling membutuhkan satu sama lain. Sifat menghargai orang lain akan terbentuk sebagai salah satu tujuan afektif dalam pembelajaran.
    Tujuan pembelajaran yang lebih diutamakan selama ini dalam pembelajaran konvensional hanya tujuan kognitif. Sebaliknya, tujuan pembelajaran yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor menjadi sangat diperhatikan pada  pembelajaran yang banyak digunakan pada saat ini. Pembelajaran kooperatif misalnya. Hal ini pun dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sangat diperhatikan.


Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Fun Page

 
Support : Bisnis Online Mahasiswa | Muslim Yes | Download Skripsi
Copyright © 2013. Download Bank Skripsi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger